A'Koerdays Blog

4 Juni 2013

JIKA TERJADI PERALIHAN PIUTANG (cessie, subrogasi, pewarisan, atau sebab-sebab lain)VS HT

Filed under: Tak Berkategori — akoerday @ 10:28 am

LIHAT Pasal 16 dan Penjelasan angka 8 dan Pasal 16 UUHT DIKAITKAN DENGAN Pasal 613 KUHPerdata:

Pasal 16
(1). Jika piutang yang dijamin dengan Hak Tanggungan beralih karena cessie, subrogasi, pewarisan, atau
sebab-sebab lain, Hak Tanggungan tersebut ikut beralih karena hukum kepada kreditor yang baru.
(2). Beralihnya Hak Tanggungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib didaftarkan oleh kreditor yang baru kepada Kantor Pertanahan.
(3). Pendaftaran beralihnya Hak Tanggungan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan oleh Kantor
Pertanahan dengan mencatatnya pada buku tanah Hak Tanggungan dan buku tanah hak atas tanah yang
menjadi obyek Hak Tanggungan serta menyalin catatan tersebut pada sertifikat Hak Tanggungan dan
sertifikat hak atas tanah yang bersangkutan.
(4). Tanggal pencatatan pada buku tanah sebagaimana dimaksud pada ayat (3) adalah tanggal hari ketujuh setelah diterimanya secara lengkap surat-surat yang diperlukan bagi pendaftaran beralihnya Hak Tanggungan dan jika hari ketujuh itu jatuh pada hari libur, catatan itu diberi bertanggal hari kerja
berikutnya.
(5). Beralihnya Hak Tanggungan mulai berlaku bagi pihak ketiga pada hari tanggal pencatatan sebagaimana dimaksud pada ayat (4)

PENJELASAN
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 4 TAHUN 1996
TENTANG
HAK TANGGUNGAN ATAS TANAH BESERTA BENDA-BENDA YANG BERKAITAN DENGAN TANAH
I. UMUM
8. Oleh karena Hak Tanggungan menurut sifatnya merupakan ikutan atau accessoir pada suatu
piutang tertentu, yang didasarkan pada suatu perjanjian utang-piutang atau perjanjian lain, maka
kelahiran dan keberadaannya ditentukan oleh adanya piutang yang dijamin pelunasannya.
Dalam hal piutang yang bersangkutan beralih kepada kreditor lain, Hak Tanggungan yang
menjaminnya, karena hukum beralih pula kepada kreditor tersebut. Pencatatan peralihan Hak Tanggungan tersebut tidak memerlukan akta PPAT, tetapi cukup didasarkan pada akta beralihnya
piutang yang dijamin. Pencatatan peralihan itu dilakukan pada buku tanah dan sertifikat Hak
Tanggungan yang bersangkutan, serta pada buku tanah dan sertifikat hak atas tanah yang
dijadikan jaminan.
Demikian juga Hak Tanggungan menjadi hapus karena hukum, apabila karena pelunasan atau
sebab-sebab lain, piutang yang dijaminnya menjadi hapus.
Dalam hal ini pun pencatatan hapusnya Hak Tanggungan yang bersangkutan cukup didasarkan
pada pernyataan tertulis dari kreditor, bahwa piutang yang dijaminnya hapus.
Pada buku tanah Hak Tanggungan yang bersangkutan dibubuhkan catatan mengenai hapusnya
hak tersebut, sedang sertifikatnya ditiadakan. Pencatatan serupa, yang disebut pencoretan atau
lebih dikenal sebagai “roya”, dilakukan juga pada buku tanah dan sertifikat hak atas tanah yang
semula dijadikan jaminan. Sertifikat hak atas tanah yang sudah dibubuhi catatan tersebut,
diserahkan kembali kepada pemegang haknya.
Dengan tidak mengabaikan kepastian hukum bagi pihak-pihak yang berkepentingan,
kesederhanaan administrasi pendaftaran Hak Tanggungan, selain dalam hal peralihan dan
hapusnya piutang yang dijamin, juga tampak pada hapusnya hak tersebut karena sebab-sebab lain,
yaitu karena dilepaskan oleh kreditor yang bersangkutan, pembersihan obyek Hak Tanggungan
berdasarkan penetapan peringkat oleh Ketua Pengadilan Negeri, dan hapusnya hak atas tanah
yang dijadikan jaminan.
Sehubungan dengan hal-hal yang telah dikemukakan di atas, Undang-undang ini mengatur
tatacara pencatatan peralihan dan hapusnya Hak Tanggungan, termasuk pencoretan atau roya.
Pasal 16
Ayat (1)
Cessie adalah perbuatan hukum mengalihkan piutang oleh kreditor pemegang Hak Tanggungan kepada
pihak lain.
Subrogasi adalah penggantian kreditor oleh pihak ketiga yang melunasi utang debitor.
Yang dimaksud dengan sebab-sebab lain adalah hal-hal lain selain yang dirinci pada ayat ini, misalnya
dalam hal terjadi pengambilalihan atau penggabungan perusahaan sehingga menyebabkan beralihnya
piutang dari perusahaan semula kepada perusahaan yang baru.
Karena beralihnya Hak Tanggungan yang diatur dalam ketentuan ini terjadi karena hukum, hal tersebut
tidak perlu dibuktikan dengan akta yang dibuat oleh PPAT. Pencatatan beralihnya Hak Tanggungan ini
cukup dilakukan berdasarkan akta yang membuktikan beralihnya piutang yang dijamin kepada kreditor
yang baru.

Lihat Penjelasan Umum angka 8.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: